You Are Here: Home - Yogyakarta - Berdakwah Melalui Internet

YOGYAKARTA -- Teknologi internet bisa digunakan sebagai sarana untuk berdakwah dan melakukan inovasi. ''Kita bisa menggunakan internet untuk syiar Islam,'' kata AVP Information Technology Service Strategy, PT Telkom Indonesia, Syaiful Hidayat, di Yogyakarta, Kamis (29/10).

Syaiful, yang berbicara dalam Pelatihan Internet Pesantren 'Wahasa Syiar Digital' yang berlangsung di Pondok Pesantren Yayasan Ali Maksum-Yogyakarta, pada 28-29 Oktober ini, dan diikuti 100 santri, mengatakan, tahun ini pengguna internet di Indonesia telah mencapai 30 juta.

Tahun lalu, ungkap Syaiful, pengguna internet di Indonesia baru mencapai 20 juta. Bahkan, jumlah pengguna facebook di Indonesia, merupakan peringkat dua di dunia. Ini mengalami peningkatan yang sangat tinggi, sebab tahun lalu hanya satu juta pengguna, sekarang mencapai 10 juta.

Syaiful mengungkapkan, banyak tulisan di facebook tidak sekadar berisi keluh kesah dan hal yang tak bermanfaat. Facebook juga bisa digunakan sebagai sarana untuk bersilaturahim dan berkomunikasi dengan teman-teman lama.

Facebook juga bisa digunakan sebagai sarana untuk bersilaturahim dan berkomunikasi dengan teman-teman lama.

‘’Melalui facebook, kita juga bisa membuat sebuah kelompok untuk berbagi ilmu serta memunculkan kreativitas dengan membuat aplikasi-aplikasi Islami,’’ kata Syaiful. Jadi, kata dia, inovasi bisa dilakukan melalui penggunaan internet.

Para santri, jelas Syaiful, bisa mengembangkan ide kreatifnya, misalnya dengan membuat game tentang perjuangan Nabi Muhammad. Jika tak ada inovasi seperti ini, termasuk lewat internet, akan dijajah bangsa lain.

Syaiful menyatakan, game di internet kebanyakan dibuat oleh Korea Selatan. Hal yang membatasi seseorang menggunakan internet, yakni kemauan dan imajinasi. Ini artinya, selain bisa digunakan untuk syiar dan inovasi, internet juga bisa untuk bisnis.

Dengan demikian, kata Syaiful, para santri harus terus berpikir kreatif. Di sisi lain, ia juga mengingatkan tentang potensi dampak buruk internet. Para santri, diharapkan mampu mengantisipasi ancaman yang ada di internet.

Paling tidak, kata Syaiful, ada tiga ancaman internet yang disebut dengan tiga G, yaitu girls, maksudnya adalah penggunaan internet hanya untuk hal yang berbau pornografi. Kedua, adalah game yang berlebihan, dan gambling atau perjudian.

Syaiful berharap, para santri peserta latihan yang berasal dari 40 pondok pesantren tersebut mampu memanfaatkan sisi positif internet. Yaitu, menggunakan internet untuk hal-hal yang bermanfaat dan menghindari potensi negatifnya. nri/yto

Tags: Yogyakarta