
Data buku:
Judul Buku : Putihkan Internet - Santri Indigo CSR TELKOM-REPUBLIKA
Jakarta: Harian Republika, 2010
ii + 189 halaman 20,5 x 13,5 cm
Putihkan Internet :Gerakan Netizen dari Komunitas Pesantren
(Oleh : Slamet Riyanto)
Buku yang terdiri dari enam bagian ini mengingatkan kembali perspektif pesantren terhadap perjalanan bangsa Indonesia dari masa penjajahan, perjuangan, bahkan perannya di era teknologi ini. Apa yang harus dilakukan oleh komunitas pesantren dalam menghadapi perkembangan teknologi? Bagaimana kesiapan pemerintah dalam menghadapi era masyarakat netizen, dan upaya-upaya untuk menipiskan kesenjangan teknologi di negeri ini?.
Bab pertama buku ini mengulas sejarah dan peran pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Disamping itu pesantren juga sebagai salah satu kekuatan utama dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sebagai lembaga yang menjunjung nilai-nilai keagamaan, pesantren telah ikut memberi warna dalam perjalanan bangsa ini sejak jaman perjuangan melawan Belanda, pada masa kemerdekaan, sampai kondisi bangsa terkini. Dari pesantren telah banyak melahirkan pemimpin bangsa.
Pada bab kedua buku ini memaparkan berbagai contoh kesenjangan penguasaan teknologi di Indonesia. Perkembangan teknologi yang begitu cepat dan tak bisa dibendung lagi, namun di Indonesia penyebarannya belum begitu merata. Banyak kendala yang harus diatasi, luasnya negara Indonesia dan banyaknya pulau menjadi salah satu alasan teknologi belum bisa dinikmati secara merata oleh bangsa Indonesia.
Telkom sebagai mesin utama dalam dunia teknologi informasi merasa bertanggungjawab terhadap kenyataan kesenjangan ini. Hal utama yang dilakukan adalah dengan membangun infrastruktur yang diberi nama Palapa Ring. Mega proyek ini menggelar jaringan serat optik nasional yang akan menjangkau 33 provinsi, 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Sedangakan untuk pengembangan sumberdaya manusia Telkom mengembangkan ‘Ma syarakat Digital’ dengan program perluasan akses internet dan Indigo Creative.
Untuk komunitas pesantren, Telkom menggandeng REPUBLIKA menggelar program Santri Indigo. Program itu pada intinya memberikan pelatihan internet kepada santri. Harapannya, kelak para santri alumninya bisa melakukan dakwah bukan saja lewat syiar konvensional tetapi juga lewat internet. Inilah salah satu upaya yang dilakukan untuk menipiskan kesenjangan penguasaan teknologi bagi bangsa ini.
Pada bagian tiga buku dengan ketebalan 189 halaman ini mengulas dilema masuknya teknologi khususnya internet di lingkungan pesantren. Secara gamblang buku ini menjelaskan mengapa alat komunikasi internasional yang dianggap sebagian masyarakat sebagai sarang kemaksiatan ini layak dipelajari oleh para calon da'i di pesantren.
Ibarat pisau bermata ganda, demikian sebutan untuk internet, bisa digunakan untuk hal-hal yang positif, konstruktif, namun juga bisa untuk hal yang negatif. Kehadiran internet tidak untuk ditolak dan dijauhi, namun harus kita dekati, dipelajari dan dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat.
Paradigma masyarakat bahwa internet sangat dekat dengan pornografi tidak salah, namun masih terbuka lebar peluang untuk mengubah internet menjadi sumur pengetahuan bahkan sebagai media dakwah.
Bagaimana caranya? Para santri yang juga sebagai calon da'i harus menguasai teknologi termasuk internet, lalu membanjiri internet dengan konten-konten yang bermanfaat, filtering terhadap konten 'sampah' harus dilakukan, dan peran pemerintah sangat diperlukan dengan berbagai kebijakan dan peraturan.
Selain itu upaya untuk menandingi konten negatif di internet, diperlukan gerakan massa (Mass Action) dengan cara membanjiri internet dengan informasi berkwalitas.
Di Indonesia terdapat 45 juta orang telah menjadi penduduk internet, dan 64% diantaranya berusia muda (15-19 tahun), mereka itulah yang biasa disebut sebagai generasi Netizen, artinya generasi yang ketika lahir telah mengenal teknologi informasi. Diantara para penduduk internet Indonesia itulah juga terdapat para santri.
Bagi para santri, jangan larang mereka untuk mengeksplor sesuatu yang mereka ingin tahu di internet, namun bekali kepada mereka, dampak negatif dan positif nya. Dengan begitu para santri akan tahu, apa resiko dari tindakan mereka. Internet adalah fenomena baru bagi para santri untuk berdakwah, karena tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dakwah santri di dunia maya relatif lebih murah namun dengan jangkauan yang lebih luas, karena akan dibaca oleh penghuni internet dari berbagai belahan dunia.
Buku yang juga merangkum testimoni dari para kiai dan ustad tentang pentingnya internet di pesantren sebagai media dahwah ini juga memaparkan secara matematis pentingnya memutihkan internet. Lebih 1000 santri telah dilatih dan dibekali pengetahuan internet, 800 weblog telah dibangun, dan mereka siap memutihkan internet.
Dari 14 motivator yang pernah mengajar dalam pelatihan Santri Indigo, mereka juga sepakat untuk memanfaatkan teknologi internet dan mengisinya dengan konten positif. Bahkan Prof Jimly Asshidiqie mantan ketua MK dengan tegas mengatakan bahwa kemajuan teknologi seperti sekarang mempermudah kita menggali ilmu dan kesempatan belajar makin terbuka. Karena itulah santri harus membuka diri terhadap teknologi,’’ . Jika tidak, santri akan tergilas zaman.
Namun upaya mengubah internet menjadi media pembelajaran yang positif perlu kerjasama antara pemerintah, lembaga pendidikan, penyandang dana, dan masyarakat secara luas.
Mari kita manfaatkan internet karena Internet Adalah Kekuatan Baru Sistem Komunikasi masa depan.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Maraknya peredaran video mesum di internet baik yang diperankan artis ternama ataupun masyarakat biasa di Tanah Air membuahkan 'prestasi' memperihatinkan bagi bangsa Indonesia. Mesin pencari dunia maya, Google, menempatkan Indonesia berada di posisi 6 dunia untuk urusan pengakses laman berisikan pornografi.Peringkat itu diperoleh Indonesia berdasarkan rentang waktu 12 bulan terakhir. Jadi, secara otomatis, keberadaan video mesum artis diperkirakan mendongkrak posisi Indonesia sebagai negara paling aktif mengakses laman berisi konten porno.
Celakanya lagi, ketika Google mencatat daerah mana saja yang mengakses kata 'Sex', Jakarta sebagai ibukota negara menempati posisi ke-4, di bawah New Delhi, Hanoi dan Mumbai. Namun, hal yang cukup mengejutkan lagi, Pakistan sebagai negara Islam di kawasan anak benua Asia menempati urutan teratas. Pakistan diapit Vietnam, India, Mesir dan Maroko. Hasil ini tentu menampar keras pemerintah Pakistan yang sejatinya telah banting tulang memblokir situs-situs porno.
Gabriel Said Reynolds, professor Islamic Studies Universitas Notredame, Amerika Serikat mengaku terkejut mengingat Pakistan merupakan negara yang melarang keberadaan klub malam. "Ini akan menjadi ironi jika mereka belum menunjukkan kewaspadaan yang sama untuk konten pornografi internet," tambahnya, dikutip TheNews.Com, Kamis (15/7).
Sementara itu, khusus pencarian kata 'Porn', Irlandia merupakan yang teratas. Kemudian disusul oleh Inggris, Kanada, Australia, Italia, India, Amerika Serikat, Turki, Finlandia dan Prancis. Indonesia dan negara Asia lain terbilang aman untuk penggunaan kata 'porn' sebagai dasar pencarian di internet. (Yto) Sumber: www.republika.co.id

SAN FRANCISCO - Di usianya yang keenam, Facebook terus berbenah. Sebentar lagi, situs jejaring sosial ini bakal dilengkapi mesin pencari di laman depannya. Microsoft mengumumkan hari ini bahwa Bing akan menjadi mesin pencari bagi 400 juta warga Facebook di seluruh dunia sekaligus mengembalikan kendali atas iklan yang muncul di situs ini. Bing sebelumnya telah menjadi mesin pencari di halaman situs Facebook AS.
"Microsoft akan memberikan pengguna Facebook akses penuh ke fitur Bing sebagai bagian dari sebuah kerjasama dalam pencarian yang diperluas," ujar General Manager Microsoft, Jon Bing Tinter. Ia menjanjikan dalam beberapa pekan ke depan sajian baru itu akan bisa dinikmati.
Kedua perusahaan menyepakati bahwa Facebook akan mengambil alih penjualan iklan display yang ditempatkan di situs itu. Pasalnya, Facebook lah yang paling paham mengingat sifat unik situs web ini. Kontrol Microsoft atas display iklan yang disajikan di Facebook mulai dilakukan sebelum akhirnya raksasa software ini membeli 1,6 persen saham Facebook pada tahun 2007 senilai 240 juta dolar AS. Siwi/Republika.co.id / yto
Oleh Wulan Tunjung PalupiPerang yang melibatkan dunia maya kini bukan lagi isapan jempol di film fiksi ilmiah. Negara-negara di dunia mulai merapatkan sistem teknologi informasi (TI) mereka untuk menangkal musuh-musuh di dunia cyber yang gencar menggerogoti sistem, mencuri data, bahkan melumpuhkan perusahaan.
Cina, Amerika Serikat dan Rusia termasuk di antara 20 negara yang berlomba-lomba memperkuat diri di dunia maya. "Mereka mempersiapkan kemungkinan terjadinya perseteruan antarnegara melalui internet," kata Kepala perusahaan keamanan web, McAfee, Dave Dewalt.
CEO perusahaan asal AS itu mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir, cara pertahanan diri tradisional yang dilakukan banyak pemerintah telah berubah banyak. "Pergeseran dari sikap defensif negara-negara ini ke postur yang lebih ofensif di dunia cyber, sangat jelas," ujar Dewalt di sela-sela pertemuan lembaga keuangan raksasa dunia dalam World Economic Forum di Davos, Swiss.
Bahkan McAfee telah mengidentifikasi, setidaknya lima negara telah melengkapi diri dengan senjata cyber. Kelima negara itu adalah Amerika Serikat, Cina, Rusia, Israel dan Prancis. "Kami bahkan melihat setidaknya 20 negara telah mempersenjatai diri untuk perang cyber, spionase cyber dan meningkatkan kemampuan untuk melakukan serangan cyber," ujar DeWalt. Dewalt yakin, ada perlombaan senjata yang tengah terjadi di dunia maya, sebagaimana dikatakannya kepada AFP.
DeWalt bukanlah orang pertama yang memberi peringatan mengenai perang cyber. Kepala Badan Telekomunikasi PBB, Toure Hamadoun, Oktober tahun lalu memperingatkan bahwa perang dunia berikutnya bisa terjadi di dunia maya.
Dewalt memberi contoh yang terjadi baru-baru ini, yakni serangan terhadap Google. Ia percaya bahwa mulai terjadi pergeseran dari spionase dan serangan terhadap infrastruktur milik pemerintah menjadi suatu penyerangan terhadap struktur komersial.
Google telah mengancam akan menarik diri dari Cina karena serangan cyber yang diklaim berasal dari "Raksasa Asia". Kekesalan Google itu telah meningkat menjadi pertikaian diplomatik.
DeWalt mengatakan, serangan terhadap Google benar-benar salah satu serangan cyber canggih dan merupakan hasil spionase cyber. Serangan itu memfokuskan pada perusahaan yang bisa dibilang paling mumpuni di dunia maya. Serangan yang memiliki sandi Operasi Aurora itu telah menyerang lebih dari 30 perusahaan. "Jumlah perusahaan yang menjadi korbannya masih bisa bertamah," kata DeWalt.
McAfee mencatat terjadinya kenaikan malware baru, atau perangkat lunak berbahaya seperti spyware, virus atau trojan dalam 12 bulan terakhir, lebih dari 500 persen. "Itu lebih malware daripada yang kita lihat dalam lima tahun terakhir digabungkan," ujar DeWalt.
Baru-baru ini McAfee menyusun survei terhadap sekitar 600 eksekutif keamanan TI dan menemukan bahwa 60 persen dari mereka yang disurvei percaya bahwa pemerintah asing turut campur tangan melakukan infiltrasi pada infrastruktur TI mereka. ed: darmawan
Sumber: www.republika.co.id

JAKARTA--Bisnis Warung Internet (Warnet) di Indonesia khususnya di kota-kota besar masih menjanjikan. Bisnis akses ke dunia maya ini menyasar pada kalangan muda yang aktif dan haus informasi. Namun dunia tanpa batas itu bisa menjadi petaka sekaligus manfaat bagi para pemakainya, karena dunia internet ibarat pisau bermata dua bisa untuk hal mudarat namun juga masih banyak manfaatnya. Lantas bagaimana mengantisipasinya?
Mengapa Warnet? Di Indonesia jumlah kepemilikan PC di setiap rumah belum seimbang dengan jumlah pengakses internet. Hal ini terlihat dari jumlah penetrasi PC di Indonesia yang masih kurang dari 5%.
Sedangkan jumlah pengakses internet menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia mencapai angka 25 juta atau 10.4%. Dengan kata lain pengakses internet bukan mengakses dari PC pribadi namun dari tempat-tempat umum.
Keadaan ini menyebabkan peluang tumbuhnya warung internet atau Warnet di Indonesia semakin cepat. Warnet berperan untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat akan kebutuhan akses internet dan berperan untuk mempersempit kesenjangan digital.
Menjamurnya bisnis Warnet menyebabkan tingginya persaingan antar Warnet, hal inilah yang mendasari Asosiasi Warung Internet (AWARI) sebagai asosiasi yang menaungi bisnis warnet di Indonesia untuk bekerjasama dengan berbagai pihak guna mendukung tumbuh kembangnya industri akses dunia maya di Indonesia.
Peluang bisnis warnet yang begitu menjanjikan harus pula didukung dengan fondasi yang baik, kata Ketua Umum AWARI, Irwin Day. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa separuh dari orang yang mengakses internet di Indonesia mengaksesnya melalui warung internet.
“Peluang bisnis warnet dapat memberikan efek yang luas bagi masyarakat. Semakin banyaknya warnet hingga ke pelosok-pelosok daerah berarti memberikan akses informasi yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia," kata dia.
"Namun harus diingat, bisnis ini harus sehat dan aman. Fondasi yang baik, sangat penting untuk menjadikan industri ini berkembang lebih cepat dan menciptakan masyarakat yang sadar informasi lebih banyak lagi,” tegasnya..
Selama ini AWARI telah memberikan sosialisasi kepada anggotaanya dengan penyebaran buku panduan membangun Warnet termasuk didalamnya langkah-langkah menjadi warnet sehat. Salah satu proyek yang diprakarsai oleh AWARI adalah Nawala Project yaitu sistem filtering internet berbasis DNS.
AWARI juga telah bekerjasama Microsoft untuk memberikan solusi teknologi yang terjangkau bagi warnet dan menyediakan berbagai teknologi untuk menciptakan warnet yang sehat dan aman.
Salah satu contoh dengan dibangunnya i-café yang merupakan salah satu dimana dimana perusahaan perangkat lunak Microsoft memberikan dukungan untuk mengembangkan bisnis warnet secara sehat melalui proses legalisasi yang dirancang khusus untuk warnet.
Kemudian dengan menjadikan warnet tempat yang aman bagi konsumen dalam mengakses informasi. Terakhir, membuat warnet sebagai lembaga usaha yang patuh terhadap kaidah hukum yang berlaku di Indonesia.
Sementara itu, Anti Suryaman Corporate Lead, PT Microsoft Indonesia menegaskan bahwa Microsoft selalu mendukung AWARI untuk memberikan solusi teknologi yang legal, up-to-date, dan aman serta dukungan program pemasaran para warnet.
Hal ini untuk membangun integritas warnet dalam program perlindungan HAKI dan menjamin keamanan konsumen sebagai pengguna jasa. yanto/itz Juga dimuat di www.republika.co.id, atau klik disini





