• Beranda
  • PT Telkom Indonesia
  • Republika Online
  • CSR Guru

Album

Santri Indigo Tahap III Angkatan 6 - Gresik - Jawa Timur
Santri Indigo Tahap III Angkatan 5 - di Purwakarta - Jawa Barat
Santri Indigo Tahap III Angkatan 4 di Magelang - Jawa Tengah
Santri Indigo Tahap III Angkatan 3 di Malang - Jawa Timur
Santri Indigo Tahap III Angkatan 2 di Cilegon
Santri Indigo Tahap III Angkatan 1 di Jepara
SANTRI INDIGO.GRESIK -- Untuk menyiapakan santri masa depan yang akrap dengan teknologi informasi, Harian Republika bekerjasama dengan PT Telekomunikasi Indonesia TBK mengadakan Kegiatan Pelatihan Internet Pesantren, Wahana Syiar Digital di Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaus Sholihin, Gresik, Jawa Timur.

Dengan tema "Putihkan Internet" acara ini akan berlangsung selama dua hari, yakni pada 23-24 November 2011.

Pelatihan yang dikenal dengan sebutan "Santri Indigo" ini akan dibuka oleh Bupati Gresik, Sambari Halim Radianto. Selain itu, acara yang diikuti sebanyak 110 peserta--85 santri dan 25 ustad dari Ponpes dan sekolah aliyah di wilayah Gresik--juga akan dihadiri oleh Pimpinan Ponpes Mambaus Sholihin KH Masbihun Faqih, Deputy General Manajer Unit Consumer Service Regional V (Wakil Kepala Telkom) Jawa Timur, Teguh Widodo.

Menurut Kepala Perwakilan Republika Biro Jawa Tengah, Hariyadi Bambang Susanto, pelatihan tersebut juga  menanamkan bekal ilmu untuk menjadi juru dakwah. Para peserta, jelas Bambang, nantinya akan bergabung dengan 1660 alumni sebelumnya dalam wadah komunitas santri indigo.

Acara yang berlangsung selama dua hari itu akan menghadirkan pakar-pakar dibidangnya seperti Suhartono (Telkom), Muhammad Ismail Thalib (Direktur PT Zahir Internasional), serta Muhammad Rijal AR Sutadiredja (Bolgger sukses dari Semarang). Sedangkan untuk proses pembuatan weblog akan dipandu oleh Slamet Riyanto dan Muhamad Afif dari Republika Online Jakarta. Reporter: Ahmad Reza Savitri (S. Riyanto)
SANTRI INDIGO--Bagi santri yang berada di wilayah Gresik - Jawa Timur dan sekitarnya, dalam waktu dekat Telkom dan Republika akan menggelar pelatihan internet bagi para santri dan ustad secara cuma-cuma.

Pelatihan Santri Indigo begitu sebutan populer pelatihan yang digelar selama dua hari ini akan menghadirkan para pakar bidang IT dan Blogger yang telah menunjukkan keberhasilannya dapat mendulang rupiah melalui dunia maya.

Pelatihan yang akan melibatkan 100 santri di wilayah Gresik dan sekitarnya itu akan mengajarkan kepada para santri untuk membuat weblog, dengan tujuan agar para santri dapat berdakwah secara lebih menggelobal melalui internet.

Materi pelatihan meliputi trend perkembangan teknologi informasi, digital kreatif, membuat blog, dan bagaimana kita bisa mendulang uang melalui blog di dunia maya.

Pelatihan yang merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) Telkom dan Republika ini akan digelar di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Gresik - Jawa Timur.

Para santri dan ustad  yang berminat silakan menghubungi panitia, Harian REPUBLIKA Jl Warung Buncit Raya No 37 Jakarta 12510, Tlp 021-7803747 pesawat 209 Sdr Aan.

(Slamet Riyanto)
PURWAKARTA -- Perkembangan teknologi informasi khususnya internet menjadi perhatian khusus di hampir semua negara, demikian juga di Indonesia. Negara maya tanpa presiden dengan penduduk sekitar dua milyard ini menimbulkan berbagai efek, baik yang positif maupun negative.

Telkom bekerjasama dengan Harian Republika mengajak para santri dan ustad untuk menyebarkan "virus" positif di dunia internet dengan menggelar pelatihan internet di pondok pesantren Al-Muhajirin - Purwakarta - Jawa Barat 26-27 Oktober 2011. Dengan mengusung tema ''Putihkan Internet '' pelatihan ini melibatkan 100 peserta terdiri dari 75 santri dan 25 ustadz, berasal dari lebih 30 pondok pesantren yang ada di Kabupaten Purwakarta dan sekitarnya.

Pelatihan yang dibuka oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ini merupakan pelatihan tahap ke tiga angkatan kelima sebagai program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dan Harian Republika.

Dalam sambutannya Dedi mengatakan pihaknya mengapresiasi acara ini. Kegiatan ini merupakan langkah positif dalam mengubah paradigma pondok pesantren termasuk santrinya. Namun, yang pasti kultur (kebiasaan) di dalam lingkungan ponpes jangan pernah berubah.

Diakui Dedi, saat ini sudah banyak para da'i, ustadz dan ustadzah yang berdakwah melalui teknologi komunikasi. Dakwah secacara door to door sudah tak lagi efektif. Namun, cara dakwah yang efektif adalah melalui internet. "Dakwah dengan internet, tanpa harus mengetuk pintu, tapi sudah langsung masuk dan tepat sasaran," paparnya. Dakwah jaman sekarang tidak perlu lagi dengan simbul-simbul islam namun rohnya harus Islami, contohnya Republika, lanjut Dedi yang ketika itu mengenakan pakaian adat Jawa Barat serba putih lengkap dengan tutup kepala.

Dra. Hj. Euis Marfu’ah, MA selaku pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin mengatakan “Kami merasa prihatin jika para santri belum mengenal internet.  Sementara  berdakwah rahmatan lil alamin tidak harus terus-menerus bergelut dengan agama, berdakwah melalui Internet  bisa menjadi cara efektif". Oleh karena itu kami ucapkan terimakasih kepada Telkom dan Republika yang telah menghidupkan dan menyi’arkan dakwah melalui duni maya ini dan para santri harus bisa melihat perkembangan ilmu pengetahuan, semoga dengan pelatihan ini kita bisa membentuk silaturahim yang kuat, lanjut Euis.

Muhammad Najib, Manajer Area Telkom CS Karawang - Purwakarta, dalam sambutannya menegaskan bahwa perkembangan teknologi tidak bisa dipungkiri. Salah satunya dengan merebaknya perkembangan internet. Akan tetapi, internet seperti mata pisau yang tajam. Jika bisa menggunakannya, pisau ini bisa bermanfaat. Sebaliknya, bila tak bisa menggunakan maka akan menjadi musibah bagi penggunanya. Untuk meminimalisir dampak negatifnya, Telkom telah berusaha memblok sejumlah konten negatif dengan bantuan teknologi. Ke depan,  Telkom dan Harian Republika akan terus bekerjasama untuk mengembangkan dan menyesuaikan kebutuhan masyarakat terhadap kecanggihan teknologi, lanjut Najib.

Pelatihan selama dua hari itu juga menghadirkan blogger sukses dari Semarang Muhammad Rijal AR Sutadiredja atau populer dengan panggilan Bang Zenk di komunitas blogger. Bang Zeng memberi rumus-rumus untuk dapat menjadikan blog sebagai kran penghasil uang, bahkan pria yang pernah mendapat beasiswa keluar negeri ini sekarang hanya menekuni bisnis di internet. Dan hasilnya lumayan, katanya sambil menampilkan perkembangan penghasilannya di internet di depan para peserta pelatihan.

Pengajar lain yang tak pernah absen setiap event santri indigo digelar adalah Gilang Ramadhan. Drummer kawakan ini tak henti-hentinya mengajak para santri untuk berkreasi di jaman digital ini. Bermain musik misalnya tidak harus dengan perlatan musik yang mahal, yang penting kita bisa membuat berbagai kreasi. Dalam kesempatan itu GIlang mencontohkan alat musik sederhana rebana dan botol galon bekas tempat air mineral. Bisa ditebak, GIlang kebanjiran pertanyaan dari peserta ketika sesi tanya jawab, bahkan ketika Gilang mencoba performance dengan dua alat sederhana itu, tak henti-hentinya para peserta tepuk tangan.

Untuk memberi wawasan perkembangan teknologi, Hartono dari Telkom Jakarta membawakan materi tentang tren perkembangan teknologi informasi. Hartono juga memaparkan berbagai program Telkom untuk memajukan teknologi internet di Indonesia dari sisi konten dan teknologi.

Pemateri dari Republika Online, Slamet Riyanto, mengatakan dari 1.550 alumni pelatihan santri indigo, 1.200 di antaranya masih aktif menulis di blog. Hal ini merupakan indikator keberhasilan kegiatan pelatihan ini. "Para santri ini, ujung tombak keberhasilan memutihkan internet," katanya.

Dalam kesempatan yang sama juga dipaparkan tentang upaya Telkom untuk mengisi dan mengakomodir konten-konten Islami melalui web speedy taqwa. Web yang di disain secara interaktif ini diisi dengan konten-konten dan aplikasi Islami kata Deden sebagai pemateri dari Telkom. (S.Riyanto)
PURWAKARTA -- Seratus santri dari 30 Pondok Pesantren yang tersebar di 17 kecamatan di Purwakarta, Jawa Barat, mengikuti pelatihan santri indigo. Kegiatan yang dilaksanakan di Ponpes Al Muhajirin ini atas kerja sama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dengan Harian Republika. Para calon ustad ini mengikuti serangkaian acara sejak Rabu (26/10) sampai Kamis (27/10).

Muhammad Najib, Manajer Area Telkom CS Karawang, mengatakan event ini merupakan angkatan kelima pada tahun ketiga. Purwakarta baru kali ini mendapat giliran. Rangkaian event ini akan berakhir pada Desember mendatang di Kota Depok.

Diakui Najib, saat ini perkembangan teknologi tidak bisa dipungkiri. Salah satunya dengan merebaknya perkembangan internet. Akan tetapi, internet seperti mata pisau yang tajam. Jika bisa menggunakannya, pisau ini bisa bermanfaat. Sebaliknya, bila tak bisa menggunakan maka akan menjadi musibah bagi penggunanya.

Saat ini, perkembangan teknologi sudah masuk sampai pelosok desa, termasuk pondok pesantren.
Supaya dampak negatif dari internet ini bisa terminimalisasi, PT Telkom sudah berusaha memblok sejumlah konten negatif. Namun, masih ada konten negatif yang tak bisa diblok. "Dengan perkembangan teknologi ini, para santri bisa berdakwah tanpa ada batasan," kata Najib, di sela-sela acara Santri Indigo.

Menurut dia, santri pada zaman sekarang ini harus bisa melihat perkembangan ilmu pengetahuan dari luar. Salah satu caranya, tinggal mengakses internet. Dengan internet bisa melihat perkembangan dunia luar, termasuk perubahan-perubahan dalam pemahaman agama. Internet bisa menambah ilmu pengetahuan para santri.

Ke depan, PT Telkom dan Harian Republika akan terus bekerjasama untuk mengembangkan dan menyesuaikan kebutuhan masyarakat terhadap kecanggihan teknologi. Kepala Perwakilan Harian Republika Jawa Barat, Maman Sudiaman, mengatakan sejak 2000 internet sudah dikenalkan ke sejumlah pondok pesantren di sejumlah daerah. Bahkan, saat ini hampir sebagian besar santri sudah tak aisng lagi dalam mengakses internet.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, mengatakan pihaknya mengapresiasi acara ini. Kegiatan ini merupakan langkah positif dalam mengubah paradigma pondok pesantren termasuk santrinya. Namun, yang pasti kultur (kebiasaan) di dalam lingkungan ponpes jangan pernah berubah.

Diakui Dedi, saat ini sudah banyak para dai atau ustadz dan ustadzah yang berdakwah melalui teknologi komunikasi. Dakwah secacara door to door sudah tak lagi efektif. Namun, cara dakwah yang efektif adalah melalui internet. "Dakwah dengan internet, tanpa harus mengetuk pintu, tapi sudah langsung masuk dan tepat sasaran," paparnya. Ita Nina Winarsih/Slamet Riyanto
Sambutan MANAJEMEN Telkom
pada Acara “SANTRI INDIGO” Angkatan ke-4 Tahun ke-3
MAGELANG, 27 SEPTEMBER 2011


Asalamu’alaikum Warahmatullahi wa Barakatuh,
Yth.    Pimpinan Pondok Pesantren Pabelan Magelang,
Yth.    Pimpinan Harian Republika,
Yth.    Para instruktur Pelatihan,
Yth.    Para Peserta Pelatihan ”Santri Indigo”, Serta hadirin yang berbahagia,

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena hanya atas rahmat dan karunia-Nya lah kita bisa hadir di tempat ini dalam keadaan sehat wal afiat, untuk mengikuti suatu program pelatihan yang dipersembahkan Telkom dan Republika khusus bagi insan pesantren yakni program ”Santri Indigo”.


Hadirin yang saya hormati,
Pelaksanaan Program Corporate Social Responsibility (CSR)  Bersama Telkom dan Republika yang bertajuk “Santri Indigo” ini   sudah menginjak tahun ketiga angkatan ke-4. Syukur Alhamdulillah mendapat sambutan yang sangat positif dari insan pesantren. Mudah-mudahan kami dapat terus mengembangkan program Santri Indigo ini sehingga terus berkelanjutan dan semakin meningkat kualitasnya dari waktu ke waktu.

Program ini merupakan upaya Telkom dan Republika untuk membekali insan-insan pesantren dengan pengetahuan, pemahamam dan aplikasi teknologi telekomunikasi khususnya internet yang kini telah menjadi kebutuhan dasar. Perkembangan internet saat ini memang luar biasa. Internet telah memberikan kemudahan dalam hal berkomunikasi dan pencarian informasi tentang apapun. Melalui internet kita dapat memperoleh informasi apa saja, dimana saja dan kapan saja (no limit, anywhere and anytime). Kita tinggal searching engine ke dunia maya seperti yahoo dan google, kita akan dapat semua informasi yang diinginkan.
Telkom terpanggil untuk lebih mengenalkan internet kepada insane-insan pesantren karena disadari bahwa pesantren merupaka lembaga pendidikan yang sangat strategis dalam mencetak generasi muda dan kader-kader pemimpin negeri ini di masa mendatang. Basis pesantren yang sangat kuat dengan nilai-nilai religious akan memberikan harapan lahirnya generasi penerus yang kuat nilai keimanannya dan tangguh nilai kejuangannya. Jumlah pesantren yang sangat banyak dan tersebar di berbagai pelosok egeri, juga menumbuhkan keinginan kuat Telkom untuk memberikan kontribusinya kepada insane pesantren, terutama dari sisi pembekalan teknologi telekomunikasi.

Dapat kami jelaskan bahwa saat ini Telkom tidak hanya mengelola layanan yang berhubungan dengan telekomunikasi semata, tetapi juga sudah lebih luas dengan menambahkan layanan yang berhubungan dengan informasi, media dan edutainment (IME). Sebagai perusahaan pengelola beragam layanan seperti inilah –termasuk internet di dalamnya – Telkom merasa tepanggil untuk membantu “menginternetkan” pesantren dengan fasilitas internet milik Telkom yakni Speedy.


Hadirin yang berbahagia
Tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan teknologi seringkali dibarengi dengan dampak negatifnya. Begitu juga internet. Beberapa diantaranya adalah situs yang mempunyai konten bertemakan pornografi, judi, dan konten lainnya yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan budaya kita. Telkom berupaya untuk meminimalisasi dampak tersebut dengan melakukan blocking terhadap situs-situs tersebut sehingga tidak bisa diakses oleh penggunanya di Indonesia. Dengan demimian, diharapkan penguasaan teknologi telekomunikasi semacam internet ini dapat memberikan nilai positif yang besar. Sedangkan dampak negatifnya kita tekan seminimal mungkin.

Telkom juga berupaya untuk membuat konten-konten religious yang bisa diakses pengguna internet. Salah satunya adalah situs speedytaqwa. Speedytaqwa merupaka sebuah portal dan komunitas  islami yang dikembangkan oleh Telkom sebagai sarana komunikasi, inovasi, edukasi, dan interaksi antar umat, dengan tagline “Menjadi Insan Modern yang Bertakwa”

Situs speedytaqwa bertujuan untuk memberikan sarana yang lebih mudah dan maju dalam menuntut ilmu pengetahuan secara online khususnya pengetahuan agama sehingga terbangun generasi yang modern, serta menjadi sarana dakwah sehingga terbangun bangsa yang maju namun tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama.


Hadirin yang terhormat
Demikianlah hal-hal yang dapat kami sampaikan berkenan dengan pembukaan program pelatihan “Santri Indigo”. Terimakasih atas segala perhatiannya


Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.




SANTRI INDIGO, MAGELANG-- Telkom bekerjasama dengan Harian Republika kembali gelar pelatihan internet untuk para santri di pondok pesantren Pabelan, Mungkid, Kabupaten Magelang, 27-28 September 2011. Dengan mengusung tema ''Putihkan Internet '' pelatihan ini melibatkan 100 peserta terdiri dari 75 santri dan 25 ustadz, berasal dari lebih 30 pondok pesantren yang ada di Kabupaten Magelang.

Pelatihan yang merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dan Harian Republika ini menargetkan agar para santri memiliki weblog dan dapat melakukan dakwah di dunia interent.

Acara dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Magelang, Drs Utoyo, didampingi Pimpinan Ponpes Pabelan,  KH Ahmad Najib Amin Hamam, dan Kepala Telkom area Magelang, Amir Yunus.

Pemkab menyambut baik dan berterima kasih kepada Telkom dan Republika karena kegiatan ini bisa digelar di Magelang, kata Sekda Magelang Utoyo dalam sambutannya. Di Kabupaten Magelang saat ini terdapat 312 pondok pesantren baik yang menjalankan pendidikan modern maupun salafiyah. ''Jumlah pondok ini mendekati jumlah desa yang ada di kabupaten ini, yang hanya 372 desa,'' tuturnya.

Dengan adanya kegiatan ini, Utoyo berharap para santri dapat lebih terdorong lagi untuk mengembangkan diri, sehingga nantinya bisa menjadi  kader-kader pembangunan yang andal.

Kepala Telkom Area Magelang, Amir Yunus, dalam sambutannya mengatakan bahwa, program Santri Indigo adalah bagian dari program CSR PT Telkom, sebagai bentuk tanggungjawab perusahaan untuk turut mendidik para santri agar lebih mengenal teknologi khususnya interent. Dengan demikian para santri dapat menyebarkan dakwaknya secara mendunia melalui weblog mereka masing-masing.

Sedangkan Pimpinan sekaligus pengasuh Ponpes Pabelan, KH Ahmad Najib A Hamam, mengatakan  “Kami yakin pelatihan semacam ini dapat memberikan inspirasi positif bagi para santri dan ustad agar lebih termotivasi lagi untuk terus mengembangkan diri,”.Apalagi jika pesertanya melibatkan lebih banyak lagi santri dan pesantren maka dampaknya akan sangat luar biasa, tambahnya. 

Direktur PT Zahir Internasional, Muhamad Ismail Thalib dengan gaya mudanya mengajak para santri untuk berkreasi di dunia digital dalam hal yang positif, karena dunia ini sangat potensial dimasa kini dan masa depan, demikian dalam pemaparannya. Banyak para milyader kelas dunia yang sukses dengan karya digitalnya, Muhammad menyebut Bill Gates pemilik Microsoft, Mark pemilik Facebook, Stave Jobs pemilik apple, semuanya sukses dengan dunia digital. Khusus di dunia internet, Muhammad mengajak agar para santri giat meng update weblog-nya dalam upaya "Memutihkan Internet". 

Sedang Slamet Riyanto, dari Republika Online, menyebutkan Telkom dan Harian Republika telah 16 kali menyelenggarakan pelatihan Santri Indigo ini. ''Alumninya sudah mencapai 1.450 orang yang tersebar di Pulau Jawa,'' katanya. Dari jumlah tersebut seribuan blog telah berhasil dibangun dan siap untuk "Memutihkan Internet", sambungnya. Pada hari kedua pematangan pembuatan blog dipandu oleh M Afif dari Republika Online sampai para peserta mengerti dan bisa mengisi dan meng-kastemisasi blognya masing-masing.

Acara berdurasi dua hari ini juga menghadirkan musisi kawakan Gilang Ramadhan, para peserta diajak untuk berkreasi dalam dunia musik. Untuk berkreasi dibidang musik, tidak harus dengan peralatan mahal kata Gilang, namun dengan peralatan yang ada disekitar kitapun bisa menghasilkan karya seni. Dalam kesempatan itu Gilang mencoba mengenalkan berbagai nada dengan botol galon kemasan air mineral. Para peserta tak henti-hentinya tepuk tangan selama gilang memberikan pemaparan tentang kreasinya dibidang musik.

Pada hari kedua selain materi pendalaman membuat blog, para santri juga mendapat wawasan tentang perkembangan dunia teknologi informasi dan komunikasi yang dibawakan oleh Suhartono dari Telkom Jakarta. Hartono memaparkan, selama kurun waktu abad ke-18, sampai ke-21 kini, dunia telah berkembang melalui tahapan era pertanian, era industri, lalu infomasi, dan sekarang sedang memasuki era konsep (conceptual age). Ke depan, kemajuan bidang teknologi informasi akan lebih cepat berkembang bila didukung dengan berkembangnya kreativitas, yang bisa memunculkan ide-ide orisinil yang selanjutnya diwujudkan dalam bentuk invonasi-inovasi baru.  Inilah peluang besar bagi para santri untuk berkreasi dan memunculkan ide-ide baru dibidang teknologi digital, tegas Suhartono.

Dalam pelatihan ini juga dihadirkan blogger sukses, tujuannya agar para santri dapat memahami internet dalam hal ini weblog tidak hanya sekedar untuk "narsis" tapi bisa menjadi sumber penghasilan. Dengan berkreasi di internet saya bisa mendapatkan penghasilan yang layak, kata Muhammad Rijal AR Sutadiredja. Bahkan dengan internet saya bisa membeli rumah cukup baik di kawasan Semarang Jawa Tengah, beli kendaraan, dan dapat menikmati tempat-tempat rekreasi kata Bang Zenk, sebutan Rijal di Internet dalam presentasinya. Intinya Bang Zeng memberi panduan bagaimana mencari uang dengan menggunakan internet.

Menjelang penghujung acara, peserta mendapat wawasan tentang web yang dikembangkan oleh Telkom yang berisi konten muslim yaitu www.speedytaqwa.com. Paparan yang dibawakan oleh Deden dari Telkom Jakarta ini memberi banyak ruang kepada santri untuk mengembangkan wawasan dan saling tukar informasi.  Slamet Riyanto
Santri Indigo, MAGELANG – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk bekerjasama dengan HU Republika kembali menyelenggarakan pelatihan internet bagi para santri. Program bertajuk Santri Indigo ''Putihkan Internet '' digelar di Pondok Pesantren Pabelan, Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Program yang berlangsung selama dua hari (27 - 28 September 2011) diikuti oleh 100 peserta terdiri dari 75 santri dan 25 ustad yang berasal dari 30 pondok pesantren yang ada di Kabupaten Magelang.

Perhelatan selama dua hari penuh ini para peserta akan mendapatkan materi tentang teknologi informasi internet, khususnya pembuatan weblog. Tujuan akhirnya adalah agar para santri nantinya dapat berdakwah di dunia internet dengan tujuan akhir untuk "memutihkan internet".

Perhelatan yang merupakan program Corporate Social Responsibility Telkom dan Republika ini dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Magelang, Drs Utoyo, didampingi Pimpinan Ponpes Pabelan,  KH Ahmad Najib Amin Hamam, dan Kepala Telkom area Magelang, Amir Yunus.

Sekda Magelang Utoyo, mengatakan Pemkab menyambut baik dan berterima kasih kegiatan ini bisa dilakukan di Magelang. Disebutkannya, di Kabupaten Magelang saat ini terdapat 312 pondok pesantren baik yang menjalankan pendidikan modern maupun salafiyah. ''Jumlah pondok ini mendekati jumlah desa yang ada di kabupaten ini, yang hanya 372 desa,'' tuturnya.

Kegiatan Santri Indigo ini adalah bagian dari program CSR PT Telkom (Tbk), sebagai bentuk tanggungjawab perusahaan untuk turut mendidik para santri agar semakin mengenal dunia internet. "Tujuannya, agar para santri dapat mengembangkan diri untuk mampu berdakwah di internet, dengan tulisan-tulisannya yang dipublikasikan di weblog mereka," demikian dikatakan Kepala Telkom Area Magelang, Amir Yunus dalam sambutannya.

Sedang Slamet Riyanto, dari HU Republika, menyebutkan Telkom dan HU Republika telah 16 kali menyelenggarakan pelatihan Santri Indigo ini. (tahap III angkatan 4)  ''Alumninya sudah mencapai 1.350 orang yang tersebar di Pulau Jawa,'' katanya. (Slamet Riyanto)
SANTRI INDIGO--Nama Pondok Pesantren Pabelan tidak asing lagi ditelinga para santri di negeri ini, pondok pesantren yang telah mengalami tiga kali kebangkitan ini sekarang telah menunjukkan eksistensinya sebagai pondok berkwalitas.

Berawal pada tahun 1800-an, Kiai Raden Muhammad Ali merintis sebuah kegiatan mengaji yang diikuti oleh para pemuda disekitarnya. Bagai titik air yang membawa kesejukan, pengajian itu menjadi besar dan memberi harapan bagi masyarakat sekitarnya tentang pengetahuan agama. 
Namun kegitan itu terhenti karena gejolak perang Diponegoro (1825-1830). Benih yang baik tak akan pernah punah, maka pada tahun 1900-an Pondok Pesantren Pabelan ini bangkit kembali di motori oleh Kiai Anwar dan dilanjutkan oleh Kiai Anshor. Pondok Pabelan kembali mengalami staknasi setelah Kiai Anshor wafat pada 1953. Duabelas tahun kemudian tepatnya 28 Agustus 1965, Pondok ini kembali bangkit untuk yang ketiga kalinya setelah salah seorang keturunan perintis Pondok Pesantren Pabelan, Hamam Dja'far, mendirikan kembali Pondok Pabelan dengan sistem dan kurikulum yang lebih modern, diberi nama Balai Pendidikan Pondok Pesantren Pabelan.

Pondok pesantren Pabelan terletak di jalur lintas pariwisata Yogyakarta dan Borobudur, tepatnya di Desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Jalur ini juga menghubungkan antara Yogyakarta dan Semarang, 35 kilometer dari arah Yogyakarta, 4 kilometer dari Muntilan dan 12 kilometer dari Kota Magelang.

Kini Balai Pendidikan Pondok Pesantren Pabelan berada di bawah naungan Yayasan Wakaf Pondok Pabelan. Didirikan oleh K.H. Hamam Dja'far pada tanggal 28 Agustus 1965.

Kegiatan Pendidikan

Pendidikan sekolah yang diselenggarakan adalah Kulliyatul Mu'allimien al-Islamiyah (KMI),  yaitu pendidikan untuk santri putra dan putri selama 6 tahun bagi lulusan Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI), dan selama 4 tahun bagi lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs). Dengan sistem ini para santri akan mendapatkan sistem pendidikan formal yang sudah disetarakan dengan SMU.

Pesantren yang pernah meraih prestasi penghargaan Aga Khan Award for Architecture tahun 1980 dan penghargaan Kalpataru tahun 1982 ini juga menyiapkan kelas khusus yang diberi nama Kelas Takhassus untuk jangka waktu satu tahun bagi santri yang berasal dari sekolah umum setara SMP yang ingin mendalami pengetahuan keagamaan.

Kini Pondok pesantren Pabelan telah memiliki ribuan santri, mereka tinggal dalam satu kompleks asrama (pondok) selama 24 jam, di bawah koordinasi pengurus Organisasi Pelajar Pondok Pabelan (OPPP), yang berada di bawah pengawasan dan bimbingan langsung para pimpinan (kiai). Para Pengurus merupakan santri kelas 5 dan 6 yang bertugas selama 1 tahun untuk melaksanakan kebijakan pimpinan pondok. Organisasi ini dimaksudkan untuk melatih santri dalam rangka pemahaman diri terhadap tanggung jawab, kejujuran, disiplin, cakap, dan kreatif sehingga membentuk jati diri yang kokoh

Data Pondok Pesantren Pabelan:
Nama   : Pondok Pesantren Pabelan
Alamat : Desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah 56408. Tromol Pos No. 800 Muntilan
Telepon : 0293-782110, 782040, 782091
Pendiri : KH Raden Muhammad Ali
Tahun berdiri : 1800 M
Pimpinan : KH Drs Ahmad Mustofa, KH Ahmad Najib Amin, KH Muhammad Balya
Jumlah Guru/Ustadz : 91 orang

(Slamet Riyanto)

SANTRI INDIGO, JAKARTA  --  Era teknologi internet membuka peluang bagi para netter untuk andil dalam penyediaan informasi khususnya di dunia maya.

Pertumbuhan personal web dan atau weblog semakin memberi keleluasaan bagi para netter untuk menyajikan berbagai informasi tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Yang menjadi masalah besar bagi para netter adalah bagaimana cara menulis yang baik sehingga mudah dipahami oleh orang lain. Membuka kebuntuan berfikir saat menulis juga menjadi kendala bagi para netter dalam upayanya mengisi web pribadinya.

Pemahaman tentang menulis di weblog itulah yang digelar dalam acara Workshop Kontes Blog dan Cara Menulis yang Baik dalam acara Republika Ramadhan Fair 1432 H di Masjid At-Tin TMII, Kamis (4/8).

Memulai dan mencoba menulis secara terus menerus, itulah kunci agar tulisan kita menjadi lebih berkwalitas kata Irfan Junaidi yang menjadi narasumber dalam acara yang dihadiri lebih dari 100 orang tersebut. Menulis dengan sumber yang jelas dan disampaikan secara utuh menjadi salah satu syarat agar tulisan kita dapat dipercaya bagi yang membacanya, imbuh Irfan yang juga sebagai wakil Redaktur pelaksana Harian Republika.

Dalam kesempatan yang sama para peserta diharapkan dapat mengikuti lomba menulis blog dengan tema "Tentang BNI Syariah" dengan harapan peserta semakin memahami berbagai produk syariah khususnya dari BNI Syariah.

Lomba yang dibuka untuk umum sampai 4 September 2011 itu rencananya 20 tulisan terbaik akan di vote (dipilih) oleh pembaca situs www.republika.co.id. Informasi selengkapnya klik disini atau dapat dilihat di www.republika.co.id

BNI Syariah menyediakan jutaan rupiah bagi 5 pemenang. (Slamet Riyanto)
Program Santri Indigo PT Telekomunikasi Indonesia-Republika disambut antusias oleh peserta yang merupakan santri dan ustad dari 30 pesantren serta sekolah Aliyah di Malang, Jawa Timur. Mereka mengaku mendapat tambahan pengetahuan tentang manfaat internet terutama untuk media dakwah.

Santri Pondok Pesantren (Ponpes) Quran Petermas, Gondanglegi Malang, Kuni Inayati mengaku semakin bersemangat untuk belajar internet setelah mengetahui berbagai manfaat di dalamnya. Selain memberi banyak informasi, dia mengatakan bisa membuat media dakwah dengan blog dari internet. "Sebelumnya, saya tidak tertarik dengan blog, tapi setelah tahu bisa juga menjadi media dakwah, akhirnya semangat untuk terus belajar, " tuturnya di sela-sela pelatihan internet Santri Indigo.

Dalam pelatihan selama dua hari 30-31 Mei 2011 di Ponpes Al Hikam Malang, para peserta mendapat materi tentang pembuatan blog yang disampaikan oleh Slamet Riyanto dan Muhammad Afif dari Republika Online. Mereka juga mendapat materi tentang upaya untuk memutihkan Internet yang disampaikan oleh Direktur Zahir Internasional, Muhammad Ismail Thalib. Selain itu, blogger sukses dari Semarang, Muhammad Rijal AR Sutadiredja membagi pengalamannya kepada peserta tentang sukses nge-blog.

Dari materi tersebut, Kuni mengaku lebih yakin bisa berkarya melalui blog yang dibuatnya. Selain itu, dengan berinternet sehat, dia mengatakan bisa lebih mendapatkan manfaat internet secara maksimal. "Jika laman-laman di web tidak bisa diblok dengan sistem piranti, kita sendiri yang membloknya dengan hanya membuka halaman yang berkonten positif, " ungkapnya.

Santri Pondok Pesantren Al Hikam Malang, Muhammad Gufron mengaku dapat memanfaatkan internet bahkan untuk mendapat pahala dengan berdakwah melalui blog. Hal itu dia dapatkan setelah mengetahui bagaimana membatasi efek negatif di internet dalam Pelatihan Santri Indigo. "Kalau bisa menggunakan internet untuk hal positif akan mendapat banyak manfaat, " tandasnya.

Pengurus Ponpes Al Rifaie Gondanglegi, Malang, Zulfa Zuhraida mengungkapkan internet telah dimanfaatkan untuk mempermudah para santri belajar Alquran, serta pengetahuan agama Islam. Namun, konten negatif di internet menjadi tantangan sendiri dalam mendapatkan manfaat tersebut. "Situs-situs negatif kalau bisa diblokir, tapi kita sendiri yang bisa memblokir dengan tidak membukanya, " ujarnya.

Untuk itu, Zulfa mengaku akan mengarahkan penggunaan internet bagi santri ke arah positif. Hal itu terutama dengan membuat blog yang memberi informasi tentang Islam. "Saya ingin mengarahkan para santri agar dapat berinternet secara sehat. Mereka juga nantinya diharapkan bisa berdakwah dengan memanfaatkan blog," papar Zulfa Zuhraida. C01, ed: irwan kelana (Slamet Riyanto)
Sudah waktunya pendi dikan internet diberikan kepada para santri dan ustadz.

Sudah waktunya pendidikan internet diberikan kepada para santri dan ustad.
Pendidikan internet bagi para santri dinilai akan memberi efek berantai yang besar. Para santri tidak hanya akan mendapat manfaat dari berbagai informasi di internet, tetapi mereka juga dapat berdakwah secara global.

Menurut Senior Manager Communication PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, Abdul Mukti Soma, pendidikan internet memberikan wawasan sekaligus peluang untuk para santri. Dengan berbagai informasi di internet, para santri dapat mengembangkan tulisan serta materi tausyiah. "Kalau ada santri yang berkemampuan lebih misalnya membuat tulisan dan tausyiah kemudian itu di-broadcast (ditayangkan), para santri bisa go global meski berasal dari kampung kecil, " ungkapnya di sela-sela pelatihan.

Pendidikan internet untuk para santri tersebut diberikan dalam program Santri Indigo PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom)-Republika di Pondok Pesantren Al-Hikam Malang, Jawa Timur, 30-31 Mei 2011. Pelatihan ini diikuti 100 peserta yang terdiri 75 santri dan 25 ustad dari 30 pesantren serta sekolah Aliyah di Malang. Pelatihan tersebut merupakan tahap III, angkatan ketiga atau pelatihan yang ke-15 sejak program tersebut digulirkan pada 2008.

Informasi di internet, lanjut Soma, memberi sejumlah peluang lain untuk para santri terutama dalam meningkatkan jenjang pendidikan. Sebabnya, informasi beasiswa banyak tersedia di layanan internet. "Sekarang para santri bisa browsing sendiri untuk mendapatkan beasiswa. Kalau dulu, informasi beasiswa para santri masih disebarkan dengan gethok tular (dari mulut ke mulut), " ungkapnya.

Selain itu, internet yang telah diadaptasi dalam sistem pembelajaran di pesantren akan memudahkan para santri dalam mendapatkan pendidikan keagamaan. Pondok Pesantren (Ponpes) dapat mengelola laman (website) yang dapat diakses santri dari rumah atau pondokan. "Pada saat terpaku pada pembelajaran konvensional, kalau santri sakit tidak akan mendapat materi pembelajaran. Dengan web, santri bisa mengakses materi pendidikan dari rumah, " tandasnya.

Soma menambahkan, pendidikan internet sudah menjadi kebutuhan dalam era perkembangan teknologi maju saat ini. Internet telah menjadi media komunikasi hingga pemasaran. "Di era seperti itu, sudah waktunya pendidikan internet diberikan kepada para santri dan ustad. Pendidikan itulah yang menjadi basis kemajuan bangsa, " ungkapnya.

Diakuinya, internet juga dapat memberi efek negatif. Karena itu, salah satu materi yang disampaikan dalam program Santri Indigoadalah langkah antisipasi menanggulangi efek negatif internet. "Para ustad nantinya yang mengarahkan para santri dalam penggunaan internet agar bisa mendapatkan maslahat (kebaikan atau manfaat), bukan mudarat (keburukan)-nya, " ujarnya.

General Manager Divisi Consumer Service PT Telekomunikasi Indonesia Regional Jawa Timur, Joko Raharjo menambahkan, program Pendidikan Telkom-Republika Santri Indigo turut menyumbang pembentukan komunitas broadband atau digital. Pembentukan komunitas tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas pengetahuan masyarakat terhadap teknologi, tetapi juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Santri Indigo akan lebih meningkatkan komunitas digital. Itu sesuai dengan target peningkatan komunitas digital 30 persen di Indonesia pada 2025, " ujarnya.

Joko mengungkapkan pendidikan tersebut telah meningkatkan penetrasi internet di masyarakat. Menurutnya, penetrasi internet di masyarakat saat ini telah mencapai sekitar 10-15 persen. Padahal, lima tahun yang lalu, penetrasi internet di masyarakat masih kurang dari lima persen.

Untuk meningkatkan pendidikan internet, PT Telkom tidak hanya memberi pengetahuan tentang koneksi internet. Peserta juga mendapat pelajaran konten internet. "Kita meningkatkan pengetahuan internet hingga ke presisi kontennya, " ujarnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Muhammad Nafi mengungkapkan santri dan pesantren merupakan komunitas potensial untuk kegiatan pendidikan internet. Dia mengakui, pengetahuan teknologi para santri dan pihak pesantren masih perlu ditingkatkan. "Secara teknologi, kalangan santri dan pesantren memang masih perlu ditingkatkan sehingga kegiatan pendidikan internet perlu lebih dikembangkan di pesantren, " ungkapnya.

Dia menambahkan pendidikan teknologi di pesantren akan memperkuat keislaman dan keindonesiaan. Selama ini, pesantren telah menyatukan ide Islam dan ideologi kebangsaan. "Jika ada ide kemodernan maju di pesantren, maka ide Islam, Indonesia, dan modern akan bersatu. Kalau ini berhasil, Indonesia akan masuk ke tingkat negara A (maju), " ungkapnya. C01, ed: irwan kelana (Slamet Riyanto)

MALANG - Program Pendidikan Telkom-Republika Santri Indigo turut menyumbang pembentukan komunitas broadband atau digital. Dengan pembentukan komunitas tersebut, diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas pengetahuan masyarakat terhadap teknologi, tapi juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

General Manager Divisi Consumer Service PT Telekomunikasi Indonesia Regional Jawa Timur, Joko Raharjo, mengatakan, komunitas digital di suatu negara minimal mencapai 30 persen dari jumlah penduduk. Satu komunitas digital akan menyumbang enam persen pertumbuhan ekonomi.

Dia mengatakan, santri indigo akan lebih meningkatkan komunitas digital. "Itu sesuai target peningkatan komunitas digital 30 persen di Indonesia pada 2025," ujarnya di sela-sela pelaksanaan program Santri Indigo di Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Senin (30/5).

Terkait pembentukan komunitas digital tersebut, PT Telkom memberi pendidikan kepada sejumlah elemen masyarakat, seperti santri, guru, dan ibu-ibu PKK. Menurut Joko, santri merupakan elemen yang potensial dalam peningkatan komunitas digital di Indonesia. "Kita punya misi agar para santri lebih hebat lagi dalam mengenal teknologi," ujarnya.

Joko mengungkapkan, pendidikan tersebut telah meningkatkan penetrasi internet di masyarakat. Penetrasi internet di masyarakat saat ini telah mencapai sekitar 10-15 persen. Padahal, lima tahun lalu kurang dari lima persen.

Untuk meningkatkan pendidikan internet, PT Telkom tidak hanya memberi pengetahuan koneksi internat. Para santri, guru, dan ibu-ibu PKK juga mendapat pelajaran konten internet. "Kita meningkatkan pengetahuan internet hingga ke presisi kontennya," ujarnya seraya menambahkan PT Telkom akan memberi pendidikan kepada 500 ibu-ibu PKK di Malang.

Joko mengungkapkan, PT Telkom sudah memberikan peranti khusus untuk memblokir konten porno. Dia mengakui, sedikitnya terdapat 3.000 situs tidak sehat yang muncul setiap hari. "Untuk pengguna internet PT Telkom, kita jamin 99,99 persen bisa berinternet sehat," jelasnya.

Wali Kota Malang, Peni Suparto, yang diwakili Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi, Tri Widyani, mengatakan pelatihan Santri Indigo diharapkan dapat membantu mengampanyekan citra internet sebagai media pendidikan dan hiburan yang positif. Karena itu, Pemkot Malang menyambut positif kegiatan ini. "Dengan peningkatan pengetahuan internet, santri dan ustaz akan lebih mudah memanfaatkan internet sebagai media berdakwah," ungkapnya.

Dia mengakui, pelatihan ini sejalan dengan program Pemkot Malang dalam misi membentuk Malang Cyber. Kini, telah dibentuk jaringan pendidikan di setiap sekolah dan e-Government. "Setiap kelurahan di Malang sudah dilengkapi jaringan internet untuk bisa diakses masyarakat secara gratis," tuturnya.c01 ed: burhanuddin bella (Slamet Riyanto)
REPUBLIKA.CO.ID,MALANG - Salah seorang pengasuh pondok pesantren mahasiswa Al-Hikam Malang, Mohammad Hanafi, meminta agar PT Telkom tidak ragu-ragu lagi masuk pesantren untuk memberikan bantuan pelatihan teknologi.

"Telkom tidak perlu ragu-ragu mau masuk pesantren untuk mengembangkan teknologi yang berbasis internet, termasuk di pesantren mahasiswa Al-Hikam ini," katanya usai pembukaan acara "Indonesian Digital Community" (Indigo) di Ponpes Mahasiswa Al-Hikam Malang, Senin (30/5).

Hanafi berpesan setiap pesantren memiliki kekhususan sehingga metode penyampaiannya pun juga berbeda. "Kalau bisa tidak hanya teknologinya, tapi juga kontennya seperti ngaji lewat internet juga harus mulai digencarkan," ujarnya.

General Manajer Divisi Consumer Service Regional Jatim PT Telkom Indonesia, Joko Raharjo, mengatakan bahwa sasaran pengembangan teknologi berbasis internet ini bukan hanya para santri, tapi juga seluruh lapisan masyarakat. Hanya saja, katanya, pihaknya ingin para santri menjadi luar biasa. Santri yang mahir dalam bidang teknologi.

"Saya yakin kalau sekedar berinternet saja, mereka pasti bisa. Tapi, kami ingin santri tahu lebih dalam soal internet," ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, para santri ini diharapkan mampu mengantisipasi munculnya situs-situs yang tidak sehat. Sebab, setiap hari muncul sekitar 3.000 situs yang tidak sehat. "Kalau kita lacak, pasti kita kalah dalam kejar-kejaran. Namun, alhamdulillah kita mampu melacak dan 99,9 persen bisa diamankan," ucapnya.
Redaktur: Didi Purwadi, Sumber: Antara, (Salamet Riyanto)
JAKARTA--Setelah sukses di Cilegon - Banten - Jawa Barat, tanggal 30 - 31 Mei 2011 mendatang PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dan Harian Republika akan bertandang ke Pondok Pesantren Al-Hikam Malang Jawa Timur untuk menggelar pelatihan internet pesantren.

Seperti acara sebelumnya, acara ini akan menghadirkan para pakar bidang IT dan blogger yang telah berhasil meraup keuntungan dalam peranannya di dunia maya internet, seperti Indra Utoyo (direktur IT & Suplay Telkom, Muhammad Thalib (PT Zahir Internasional), Bang Zenk (Blogger), Gilang Ramadhan (Musisi), Slamet Riyanto dan M Afif dari Republika Online.

Perhelatan yang akrab disebut dengan Pelatihan Santri Indigo ini mengajarkan kepada para santri agar berdakwah di dunia maya - internet. Tujuannya adalah agar umat Islam pada umumnya dan para santri yang kelak bakal menjadi juru dakwah dapat menjadi penetrasi informasi di dunia tanpa batas internet. Dalam kesempatan tersebut para santri akan dilatih membuat web-blog di internet, wawasan teknologi informasi, dan berbagai motivasi dari para pakar.

Pelatihan internet bagi para santri dan ustad ini dilangsungkan selama dua hari, para pengajar dari unsur birokrat, pakar informasi, akademisi, profesional, dan praktisi informasi.

Para peserta pelatihan adalah santri dan ustad dari pondok pesantren diwilayah Malang - Jawa Timur, minimal kelas 11 (Aliah), dan akan didampingi oleh ustad dari masing-masing pesantren. (Slamet Riyanto)
REPUBLIKA.CO.ID,CILEGON--Semakin meningkatnya teknologi informasi dan telekomunikasi membuat pornografi merajalela di dunia maya. Perlu peran pemerintah dan masyarakat yang lebih besar dalam menangkal situs porno.

“Selama ini, upaya menangkal pornografi hanya dibebankan kepada operator telekomunikasi,” kata Direktur IT dan Suplay Telkom, Indra Utoyo, kepada Republika usai memberikan pelatihan internet kepada 100 Santri Indigo di Pondok Pesantren Al-Khairiyah, Cilegon, Banten, Senin (25/4).

Menurut Indra, pemerintah harus membentuk unit atau institusi di bawah kementerian yang khusus memantau konten porno. Pemerintah perlu merekrut banyak orang yang khusus memantau situs dan konten porno, seperti yang dilakukan Pemerintah China. “Mungkin di kementerian sudah ada tapi orangnya tidak banyak," kata Indra.

Sejauh ini, kata Indra, operator telah memblokir situs-situs besar yang memang sudah diketahui sebagai situs porno. Namun, belum bisa bisa seratus persen diberantas karena operator memiliki keterbatasan kapasitas server dan biaya. “Paling tidak, seratus situs yang paling banyak kunjungi telah kita blokir,” katanya.

Namun, Indra mengakui, masih banyak situs dengan konten porno yang sulit terdeteksi. Saat ini, kata Indra, tengah digiring agar situs porno menggunakan domain tersendiri, misalnya xxx. “Sehingga lebih mudah untuk diblokir,” terang Indra.

Ada cara lain yang lebih mudah, Indra menambahkan, yakni menumbuhkan kesadaran masyarakat agar mengunggah sendiri software penangkal situs porno di dalam perangkat mereka. “Ini lebih efektif dan diserver operator tidak terlalu berat,” kata Indra. Muhammad Fakhruddin
JAKARTA--Tanggal 24 - 25 April 2011 PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dan Harian Republika akan menggelar pelatihan internet pesantren di Pondok Pesantren Al-Khairiyah Cilegon - Banten - Jawa Barat.

Perhelatan yang akrab disebut dengan training Santri Indigo ini mengajarkan kepada para santri agar berdakwah di dunia maya - internet. Tujuannya adalah agar umat Islam pada umumnya dan para santri yang kelak bakal menjadi juru dakwah dapat menjadi penetrasi informasi di dunia tanpa batas internet. Dalam kesempatan tersebut para santri akan dilatih membuat web-blog di internet, wawasan teknologi informasi, dan berbagai motivasi dari para pakar.

Pelatihan internet bagi para santri dan ustad ini dilangsungkan selama dua hari, para pengajar dari unsur birokrat, pakar informasi, akademisi, profesional, dan praktisi informasi.

Para peserta pelatihan adalah santri dan ustad dari pondok pesantren diwilayah Cilegon - Banten - Jawa Barat, minimal kelas 11 (Aliah), dan akan didampingi oleh ustad dari masing-masing pesantren. (Slamet Riyanto)














Data buku:

Judul Buku : Putihkan Internet - Santri Indigo CSR TELKOM-REPUBLIKA
Jakarta: Harian Republika, 2010
ii + 189 halaman 20,5 x 13,5 cm


Putihkan Internet :Gerakan Netizen dari Komunitas Pesantren

(Oleh : Slamet Riyanto)

Buku yang terdiri dari enam bagian ini mengingatkan kembali perspektif pesantren terhadap perjalanan bangsa Indonesia dari masa penjajahan, perjuangan, bahkan perannya di era teknologi ini. Apa yang harus dilakukan oleh komunitas pesantren dalam menghadapi perkembangan teknologi? Bagaimana kesiapan pemerintah dalam menghadapi era masyarakat netizen, dan upaya-upaya untuk menipiskan kesenjangan teknologi di negeri ini?.

Bab pertama buku ini mengulas sejarah dan peran pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Disamping itu pesantren juga sebagai salah satu kekuatan utama dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sebagai lembaga yang menjunjung nilai-nilai keagamaan, pesantren telah ikut memberi warna dalam perjalanan bangsa ini sejak jaman perjuangan melawan Belanda, pada masa kemerdekaan, sampai kondisi bangsa terkini. Dari pesantren telah banyak melahirkan pemimpin bangsa.

Pada bab kedua buku ini memaparkan berbagai contoh kesenjangan penguasaan teknologi di Indonesia. Perkembangan teknologi yang begitu cepat dan tak bisa dibendung lagi, namun di Indonesia penyebarannya belum begitu merata. Banyak kendala yang harus diatasi, luasnya negara Indonesia dan banyaknya pulau menjadi salah satu alasan teknologi belum bisa dinikmati secara merata oleh bangsa Indonesia.

Telkom sebagai mesin utama dalam dunia teknologi informasi merasa bertanggungjawab terhadap kenyataan kesenjangan ini. Hal utama yang dilakukan adalah dengan membangun infrastruktur yang diberi nama Palapa Ring. Mega proyek ini menggelar jaringan serat optik nasional yang akan menjangkau 33 provinsi, 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Sedangakan untuk pengembangan sumberdaya manusia Telkom mengembangkan ‘Ma syarakat Digital’ dengan program perluasan akses internet dan Indigo Creative.

Untuk komunitas pesantren, Telkom menggandeng REPUBLIKA menggelar program Santri Indigo. Program itu pada intinya memberikan pelatihan internet kepada santri. Harapannya, kelak para santri alumninya bisa melakukan dakwah bukan saja lewat syiar konvensional tetapi juga lewat internet. Inilah salah satu upaya yang dilakukan untuk menipiskan kesenjangan penguasaan teknologi bagi bangsa ini.

Pada bagian tiga buku dengan ketebalan 189 halaman ini mengulas dilema masuknya teknologi khususnya internet di lingkungan pesantren. Secara gamblang buku ini menjelaskan mengapa alat komunikasi internasional yang dianggap sebagian masyarakat sebagai sarang kemaksiatan ini layak dipelajari oleh para calon da'i di pesantren.

Ibarat pisau bermata ganda, demikian sebutan untuk internet, bisa digunakan untuk hal-hal yang positif, konstruktif, namun juga bisa untuk hal yang negatif. Kehadiran internet tidak untuk ditolak dan dijauhi, namun harus kita dekati, dipelajari dan dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat.

Paradigma masyarakat bahwa internet sangat dekat dengan pornografi tidak salah, namun masih terbuka lebar peluang untuk mengubah internet menjadi sumur pengetahuan bahkan sebagai media dakwah.

Bagaimana caranya? Para santri yang juga sebagai calon da'i harus menguasai teknologi termasuk internet, lalu membanjiri internet dengan konten-konten yang bermanfaat, filtering terhadap konten 'sampah' harus dilakukan, dan peran pemerintah sangat diperlukan dengan berbagai kebijakan dan peraturan.

Selain itu upaya untuk menandingi konten negatif di internet, diperlukan gerakan massa (Mass Action) dengan cara membanjiri internet dengan informasi berkwalitas.

Di Indonesia terdapat 45 juta orang telah menjadi penduduk internet, dan 64% diantaranya berusia muda (15-19 tahun), mereka itulah yang biasa disebut sebagai generasi Netizen, artinya generasi yang ketika lahir telah mengenal teknologi informasi. Diantara para penduduk internet Indonesia itulah juga terdapat para santri.

Bagi para santri, jangan larang mereka untuk mengeksplor sesuatu yang mereka ingin tahu di internet, namun bekali kepada mereka, dampak negatif dan positif nya. Dengan begitu para santri akan tahu, apa resiko dari tindakan mereka. Internet adalah fenomena baru bagi para santri untuk berdakwah, karena tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dakwah santri di dunia maya relatif lebih murah namun dengan jangkauan yang lebih luas, karena akan dibaca oleh penghuni internet dari berbagai belahan dunia.

Buku yang juga merangkum testimoni dari para kiai dan ustad tentang pentingnya internet di pesantren sebagai media dahwah ini juga memaparkan secara matematis pentingnya memutihkan internet. Lebih 1000 santri telah dilatih dan dibekali pengetahuan internet, 800 weblog telah dibangun, dan mereka siap memutihkan internet.

Dari 14 motivator yang pernah mengajar dalam pelatihan Santri Indigo, mereka juga sepakat untuk memanfaatkan teknologi internet dan mengisinya dengan konten positif. Bahkan Prof Jimly Asshidiqie mantan ketua MK dengan tegas mengatakan bahwa kemajuan teknologi seperti sekarang mempermudah kita menggali ilmu dan kesempatan belajar makin terbuka. Karena itulah santri harus membuka diri terhadap teknologi,’’ . Jika tidak, santri akan tergilas zaman.

Namun upaya mengubah internet menjadi media pembelajaran yang positif perlu kerjasama antara pemerintah, lembaga pendidikan, penyandang dana, dan masyarakat secara luas.
Mari kita manfaatkan internet karena Internet Adalah Kekuatan Baru Sistem Komunikasi masa depan.

REPUBLIKA.CO.ID,JEPARA--Para santri di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah merespon positif pelatihan 'Internet Pesantren, Wahana Syiar digital (Santri Indigo) di Gedung NU cabang Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (19/3).

Umumnya, mereka mengaku mendapatkan pengalaman baru untuk mempelajari pesatnya teknologi ICT ini. Pasalnya, selama ini mereka jarang bersinggungan dengan internet.

Pada pelatihan ini para peserta mendapatkan paparan dari para pakar internet dan ICT serta blogger sukses. Seperti Muhammad Rijal AR Sutadiredja, seorang blogger dari Semarang serta Dimas Prasetyo, yang merupakan blogger tuna netra dari Jakarta.

Abdul Latif, santri pondok pesantren An Nur, Desa Mangunan, Kecamatan Taunan, Kabupaten Jepara mengaku pelatihan internet ini merupakan hal yang baru baginya. Selama ini ia sama sekali belum pernah bersinggungan dengan teknologi internet. Baginya pelatihan dan pengenalan pada teknologi ITC ini merupakan pengalaman baru.

Ia mengaku tertarik untuk mempelajari lebih lanjut. Termasuk dalam hal pembuatan blogg meski baru bisa menguasai sedikit demi sedikit. "Kalau sebelumnya internet hanya sekadar melihat dari orang- orang di sekitar saya, kini kesempatan untuk belajar dan melakukannya sendiri ada," ungkapnya.

Eny Sulistyowati, santriwati Ponpes Al Itihad, Kecamatan Taunan juga mengamini pelatihan ini sebagai pengalaman baru dalam pengembangan kemampuan diri. a mengaku senang mengikuti kegiatan ini, seperti pelatihan membuat blogg. Menurutnya, pelatihan bisa dimanfaatkannya sebagai penunjang kegiatan belajar di ponpesnya.

"Pertama kali mengakses internet saya sangat tertarik. Ternyata banyak proses- proses kreatif yang bisa saya pelajari," imbuhnya.

Seperti halnya pelatihan- pelatihan sebelumnya, kegiatan Santri Indigo di Jepara diawali dengan Pelatihan ini selalu diawali dengan motivasi dan wawasan teknologi. Sesi ini banyak memberikan ruang kepada para santri tentang pentingnya Internet, aplikasi penggunaan untuk hal- hal yang bermanfaat, seperti dakwah.

Sesi terakhir dilaksanakan pelatihan membuat blogg bagi para santri peserta pelatihan yang dipandu oleh Slamet Riyanto, dari Harian Umum Republika.

Pelatihan diikuti oleh 100 peserta, yang terdiri atas 75 santriwan/ santriwati dan 25 ustad dari 30 ponpes yang ada di Kabupaten Jepara dan sekitarnya
Redaktur: taufik rachman
Reporter: bowo pribadi

JEPARA--"Jangan sampai Jepara ketinggalan teknologi informasi, karena dengan aplikasi teknologi ini sangat membantu. Baik dalam layanan kepada masyarakat maupun dalam kebutuhan informasi sehari- hari,".

Inilah semangat yang disampaikan oleh Bupati Jepara, Drs Hendro Martojo MM saat membuka program 'Pelatihan Internet Pesantren, Wahana Syiar digital (Santri Indigo) di Gedung NU cabang Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (19/3).

Dalam layanan kepada masyarakat, menurut Hendro, pemanfaatan teknologi ICT telah diaplikasikan di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara. Bahkan kemudahan dan keunggulan teknologi ini sudah sangat dirasakan.

Jika warga Jepara --suatu saat-- ada yang terjaring operasi Yustisi di Jakarta karena tidak membawa KTP jangan khawatir, karena Jepara sudah mempunyai layanan KTP nasional menggunakan keunggulan teknologi internet. "Sehingga, kalau 'digaruk' tinggal dibuka saja webnya Jepara. Di laman tersebut akan dapat dibuktikan bahwa yang bersangkutan merupakan warga Jepara," ujar Bupati di hadapan peserta pelatihan ini.

Keunggulan ICT juga banyak bermanfaat untuk pengembangan diri misalnya, melalui internet bisa membaca novel ayat-ayat cinta, ketika cinta bertasbih dan banyak lagi. Demikian pula untuk memasuki cakrawala informasi di seluruh jagat ini, semua tersedia lengkap dan cepat. Karena internet adalah jendela dunia untuk mencari informasi bermanfaat.

Sementara itu, General Manager Unit Consumer Service Regional Telkom Jawa Tengah, Rosyido Umam Aly, menegaskan bahwa memutihkan internet adalah merupakan tugas bersama. Tak terkecuali kalangan santri. Sehingga edukasi kepada warga pesantren dengan mengenal dunia ICT juga strategis. Sehingga para santri dapat memberikan kontribusi positif di dunia internet maupun dunia Islam sendiri.

Harus diakui, magnet negatif pemanfaatan teknologi internet --saat ini-- masih lebih besar ketimbang magnet positifnya. Karena itu Telkom menggandeng Republika sebagai Koran Islam untuk ikut serta 'memutihkan' internet ini.

Hal ini juga dibenarkan oleh Manajer Iklan Harian Umum Republika, Indra Wisnu Wardana. Ia mengajak para santri peserta pelatihan ini untuk peduli dalam upaya'memutihkan' internet. Menurutnya, memutihkan internet merupakan upaya mulia untuk mengubah konotasi negatif tentang pemanfaatan teknologi internet. Slamet Riyanto
JEPARA--Jangan sampai jepara ketinggalan teknologi, karena dengan aplikasi teknologi sangat membantu layanan kepada masyarakat. Jika warga Jepara suatu saat ada yang “digaruk” di Jakarta karena tidak membawa KTP jangan khawatir, karena kita sudah mempunyai layanan KTP nasional menggunakan keunggulan internet. Sehingga kalau “digaruk” tinggal dibuka saja webnya jepara, dan disana dapat dibuktikan bahwa seseorang adalah warga Jepara. Demikian dalam sambutan Bupati Jepara Drs Hendro Martojo, MM dalam kesempatan Pelatihan Internet Pesantren, Wahana Syiar digital yang digelar di Jepara pagi ini.

Keunggulan ICT juga banyak bermanfaat untuk pengembangan diri misalnya, melalui internet kita bisa membaca novel ayat-ayat cinta, ketika cinta bertasbih dan banyak lagi. Tidak usah khawatir masuk dunia internet karena internet adalah jendela dunia untuk mencari informasi bermanfaat, lanjut Martojo. Bahkan untuk menunjukkan bahwa internet itu bisa menghadirkan banyak manfaat bagi dirinya, Martojo memberikan alamat web pribadinya yang beralamat di www.hendromartojo.info.

Dalam kesempatan yang sama Rosyido Umam Aly, GM Unit Consumer Service Regional Telkom Jawa Tengah menegaskan bahwa memutihkan internet adalah merupakan Tugas kita bersama, mendidik pesantren untuk mengenal dunia ICT agar para santri dapat memberikan kontribusi positif di dunia internet. Karena saat ini magnet negative di internet masih lebih besar dibanding magnet positif. Karena itulah Telkom menggandeng Republika sebagai Koran Islam untuk ikut serta memutihkan internet.

Sejalan dengan Rosyido, manajer iklan Harian Republika Indra Wisnu Wardana mengajak para santri untuk memutihkan internet. Mengapa memutihkan internet? inilah upaya kitan untuk mengubah konotasi negtif di internet, paparnya dalam awal sambutan. Indra melanjutkan, pagi ini kawan kami dari Republika Online melalui search engine mencari data tentang porn (porno), ditemukan sebanyak 790 juta item, sedangkan kata Islam, santri, pesantren, moslem hanya ditemukan kurang lebih 300 juta item. Inilah yang menjadi penyemangat Republika dan Telkom untuk terus berupaya memutihkan internet agar lebih berbudaya. Selain nara sumber dari para pakar internet dan ICT, pelatihan yang telah menapaki tahap ke 3 angkatan pertama juga menghadirkan Blogger sukses Muhammad Rijal AR Sutadiredja dari Semarang dan Dimas Prasetyo seorang blogger tuna netra dari Jakarta.

Pelatihan yang akrab dengan sebutan Santri Indigo ini dilangsungkan di Gedung NU cabang Jepara selama dua hari (19 – 20 Maret 2011) diikuti oleh 100 santri terdiri dari 75 santri dan 25 ustad dari 30 pesantren di Jepara dan sekitarnya. Program yang mengusung tema Putihkan Internet ini merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) Telkom dan Republika. (Slamet Riyanto)
Postingan Lama Beranda
Adv
  • Recent Posts
  • Comments

Ayo Sholat

Mualaf

Memuat...

Download Materi Pelatihan

1. Trend Perkembangan Teknologi-Indra Utoyo

2. Putihkan Internet-Muhammad Ismail

3. Menjadi Blogger Sukses-Bang Zenk

4. Agar Online Bernilai Ibadah-Asma Nadia

5. Internet Sehat-Irwin Day

6. Panduan Membuat Blog-Slamet Riyanto

7.Blog Advanced - M Afif

8. Sosialisasi Speedy Taqwa-Deden

Video

Republika

www.republika.co.id

Telkom

www.telkom.co.id

footerwidget3

Santri Indigo

footerwidget4